KAMPAR - Sebelumnya di beberapa media online mencoba klarifikasi atas dugaan Bantuan Sosial Pangan (BSP) Tenaga Kesejahteraan Sosial (TKSK) pungut Rp.500 ribu di lingkup Desa Salo kabupaten Kampar di sebuah agen brilink/ e-Warong.
“Tetapi agen e-warung memberikan kepada kami (pendamping) semacam uang bensin, karena agen merasa mendapatkan keuntungan dari program tersebut. Mereka para agen merasa terbantu,” imbuh Nuridayati TKSK Salo 22/5/21 di salahsatu media online.
Ironisnya di saat awak media minta tangapan Nur TKSK Salo, melalui pesan whatshap terkaitnya dugaan pungutan biaya di sebuah e-Warong/brilink di kecamatannya Nur bungkam alias bisu sampai hari ini senin.24/5/2021.
Tidak hanya itu hal serupa, Hariadi berkompeten sebagai Koordinator Kecamatan (Korcam) program keluarga harapan (PKH) Salo, saat media ini minta konfirmasinya atas dugaan pungutan hal tersebut tidak ada jawabannya, ironisnya lagi, di salahsatu media online Hariadi malah mencoba untuk kralfikasi.
Lanjut di sebuah agen brilink/ e-Warong buk Erma Linda Desa Ganting Damai Kecamatan Salo, Erma Linda telah membuat surat pernyataan yang masih belum ia tanda tangan, isinya.
"Berdasarkan hasil musyawarah ketua kelompok KPM dan ketua kelompok penerima PKH, mereka menunjukkan dan meminta saya sebagai pengadaan bahan pokok untuk memenuhi BSP yang disalurkan langsung kepada Keluarga Penerima Manfaat KPM untuk pencairan uang tunai PKH, ketua kelompok meminta untuk dicairkan di brilink/e- warong yang saya kelola saat ini.
"Hal ini untuk menghindari pemotongan dari ketua kelompok yang uangnya disetorkan kepada pendamping PKH Dinas sosial Kecamatan Salo.
Biasanya pencairan dilakukan di rumah ketua kelompok PKH yang menggunakan edisi mesin brilink berjalan milik pendamping PKH untuk pengadaan BSP.
"Ketua kelompok menunjuk saya agar memenuhi semua barang yang akan dibagikan kepada KPM hal ini untuk mengingat menimbang agar saya sebagai pemilik e-warong/ brilink bisa setiap bulan mengganti beras dengan beras belida atau anak Daro atau beras bermutu lainnya dan saya wajib memenuhi permintaan KPM agar tidak terjadi mongok pengambilan BSP di brilink saya.
"Selama ini ini semua KPM sudah mengetahui pengadaan/suplayer dilakukan oleh TKSK Kecamatan Salo beserta pendamping PKH, mereka menyalurkan Bulog dari Kota Dumai yang menggunakan karung bermacam merek hingga KPM kecewa dan terpaksa mengambilnya.
Dalam kategori ikan teri tidak disalurkan dalam program BSP yang dibagikan kepada KPM sebelum dibagikan terlebih dahulu, TKSK dan timnya mengantarkan kacang tanah, ikan teri, kentang ,telur dan beras bulog.
"Selama ini BRI Link saya hanya digunakan untuk gudang dan membagikan BSP juga untuk menerima saldo, keuntungan yang saya dapat di setiap pembagian BSP setelah selesai pembagian pemilik BRI Link Kecamatan Salo.
"Mengadakan pertemuan di rumah Hariadi selaku korcam salo untuk membayar sebesar 30% dari keuntungan penjualan bahan pokok yang di suplaiernya bersama TKSK dan timnya," tulis pernyataan buk Erma Linda.
Selanjutnya dari hasil investigasi team awak media dikatakan oleh salah seorang pemilik e- warong Desa Siabu Kabupaten Kampar yang enggan disebutkan namanya "Keluarga penerima mampat (KPM ) tidak bisa memilih, barang sudah dipaketkan, dan tinggal mengambilnya lagi, dan kami tidak ada mengasih total harga barang, cuma mengasikan slip (fi'ih) total uangnya saja.(***)

